Luka itu Belum Sembuh (Bagian 5-Selesai)

Yang belum baca cerita sebelumnya ada di bagian 1, bagian 2, bagian 3, dan bagian 4

“Semua yang kamu ceritakan, tak ada yang salah. Tapi itu hanya sebagian kecil saja dari derita yang aku rasa akibat volly,” ungkap Ryan terbata-bata.

          Pengalaman terpilih masuk pelatnas, diakui Ryan sebagai hal yang paling membanggakan dan membahagiakan. Apalagi ia telah berlatih serius sejak SMP. Karena itu, diterima di pelatnas memang telah ditunggunya. Continue reading

Luka Itu Belum Sembuh (Bagian 4)

Yang belum baca cerita sebelumnya ada di bagian 1, bagian 2, dan bagian 3

“Kak Ryan…Kak…tunggu.” Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Suara Tantri, yang lembut dan renyah. Ryan bingung harus bagaimana. Seminggu ini ia berhasil menghindar dari Tantri. Tapi, tidak kali ini.

          “Tantri salah ya, Kak?,” Tantri bertanya sungguh-sungguh. Ryan Cuma diam dan menggelengkan kepalanya. “Kak, kalau aku salah, beritahu apa salahku. Kenapa Kak Ryan tidak mau jalan-jalan bareng aku lagi,” lagi-lagi Tantri menegaskan kebingungannya. Namun, lagi-lagi Cuma tatapan tak acuh Ryan sebagai balasannya. Continue reading

Luka Itu Belum Sembuh (bagian 3)

Cerita sebelumnya di sini dan di sini

Genap seminggu terlewati, Ryan mengisi kekosongan hari tanpa Tantri. Jika biasanya sehari bisa 3 kali telepon ataupun SMS, kini ritual itu tak lagi ia lakukan.Adayang hilang. Ya, Ryan menyadari hal tersebut. Tapi, ia berusaha mengubur dalam-dalam kenangan bersama Tantri.

          Ryan mencoba mengalihkan perhatiannya pada ruang di sudut lantai 2, Perpustakaan Kampus. Di sanalah Ryan memulai harinya. Jika tidak masuk kelas, Ryan pasti berada disana. Kursinya pun tidak berpindah-pindah. Selalu di bangku deretan pertama, dekat jendela. Continue reading

Luka Itu Belum Sembuh (bagian 2)

Cerita sebelumnya di sini.

Tak ada salahnya berteman. Pikiran ini selalu ditanamkan di hati Ryan tiap kali jalan-jalan bersama dengan Tantri. Toh, batin lelaki asalSemarangitu, mereka jalan bersama dengan Bimo dan teman-teman lainnya.

          Hari berganti, keakraban antara Ryan dan Tantri terus terjalin. Lembaran jarak mulai terlipat dengan sendirinya. Bahkan tanpa segan-segan Tantri bercerita tentang keluarganya yang hanya mengandalkan penghasilan bapaknya sebagai seorang petani.  Continue reading

Luka Itu Belum Sembuh (bagian 1)

“Wow…, tubuh tinggi semampai, wajah lonjong khas wong Jowo, penampilan modis namun tetap sopan, ditambah tutur bahasa halus bahkan nyaris tak terdengar. Ini benar-benar bidadari idamanku. Tapi…ah, mana mungkin.” Berkali-kali Ryan menatap sekaligus memuji sosok makhluk cantik di hadapannya. Namun berkali-kali pula ia hanya mengelus dada, menunduk dan berucap dalam hati, tak mungkin….tak mungkin…tak mungkin. Continue reading